Evi Dorong Pengoptimalan BLK

oleh -45 Dilihat
Wakil Ketua Komite III DPD RI, Evi Apita Maya, SH., M.Kn

Beritasumbawa.com (23/5/2022)

SUMBAWA- Pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sumbawa ke luar negeri, selalu pada sektor non formal. Karena itu, Wakil Ketua Komite III DPD RI, Evi Apita Maya, SH., M.Kn, mendorong pemerintah, untuk mengoptimalkan Balai Latihan Kerja (BLK). Sehingga, menghasilkan sumber daya yang bisa dikirimkan ke luar negeri untuk bekerja di sektor formal.

Ditemui seusai sosialisasi peluang kerja luar negeri di Sumbawa belum lama ini, Evi Apita Maya SH., M.Kn, menegaskan, bahwa pihaknya bermitra dengan BP2MI. Sebagai legislator, pihaknya memiliki fungsi pengawasan terhadap semua peraturan, maupun kebijakan yang sudah dikeluarkan. Termasuk juga mengawasi apa yang sudah dilakukan oleh BP2MI.

Karena itu, pihaknya selalu menekankan dan mendorong Kemenaker untuk membangun BLK yang benar-benar menyiapkan PMI ke luar negeri. Dimana para PMI ini diberikan keterampilan dan siap pakai. Karena itu, pemerintah kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat memiliki peran masing-masing dan menganggarkan kesiapan PMI yang diberangkatkan. Dengan cara digodok terlebih dahulu di BLK.

Dalam hal ini, pihaknya tidak membahas terkait anggaran guna pengoptimalan BLK ini. Namun, setiap rapat dengan Kementerian Ketenagakerjaan, pihaknya selalu mendorong agar PMI kita yang berangkat ke luar negeri harus pada sektor formal. Dimana PMI itu boleh diberangkatkan, jika benar-benar telah memiliki skill. Dengan demikian, maka PMI yang diberangkatkan juga memiliki jaminan keamanan dan kepastian kerja.

Lebih lanjut Evi mengatakan, dengan adanya sosialisasi BP2MI ini, setiap calon PMI yang akan rangkat ke luar negeri wajib didaftarkan di BP2MI. Karena BP2MI bisa memantau serta menginformasikan PMI terhadap adanya hal-hal yang akan merugikan PMI itu sendiri. Mengingat BP2MI melakukan pemantauan selama 24 jam dan memiliki hotline pengaduan sendiri.

“Komite III DPD RI sudah melihat langsung. Sistem hotline ini sudah terlaksana dan setiap PMI terdata secara digital,” ungkap Evi.

kehilangan

Sebelumnya, Evi dalam sambutannya pada kegiatan sosialisasi tersebut menegaskan, bahwa NTB merupakan suplayer pekerja migran nomor keempat terbesar di Indonesia. Sosialisasi ini dirasakan sangat tepat. Sebab, seperti yang disampaikan BP2MI bahwa seluruh pekerja migran harus dilindungi, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Kita diposisi nomor dua pemasok devisa negara sebesar Rp 159,6 Miliar setelah migas,” terangnya.

Evi berharap, kedepan semua pekerja migran, berangkat ke luar negeri melalui jalur formal, tanpa calo dan tidak secara nonprosedural. “Jangan percaya sama iming-iming calo. Karena berangkat ke luar negeri ada tahapan-tahapan. Sikat sindikat oleh BP2MI dan kita harus bersinergi,” pungkasnya. (bs/mei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.