Festival Film Sumbawa, Langkah Tepat Pemajuan Budaya 

oleh -16 Dilihat

Beritasumbawa.com (19/10/2021)

SUMBAWA- Festival Film Sumbawa dinilai sebagai langkah yang tepat. Untuk pemajuan budaya melalui disiplin seni visual yang populer. Hal ini disampaikan salah seorang budayawan nasional, Taufik Rahzen, dalam seminar Festival Film Sumbawa ketiga.

Dalam seminar nasional yang dilaksanakan secara daring itu, Taufik memaparkan, dengan Festival Film Sumbawa, ide yang tersebar banyak di sekitar pulau Sumbawa bisa dihimpun. Dengan begitu naskah tentang ke-Sumbawa-an bisa bersanding dengan naskah-naskah dunia yang telah diakui.

Selain itu, Taufik juga membahas tentang bagaimana interaksi antara manusia dan alam, memiliki pola serta penanda dalam kebudayaan. Sehingga disetiap situasi yang penuh tantangan akan muncul adaptasi-adaptasi baru yang akan melahirkan kebudayaan baru.

Dalam perbincangannya, Taufik mengeksplorasi tentang Sumbawa, sebagai sebuah kawasan yang sangat potensial untuk sebuah pemikiran inovasi kreatif. Sebagai seorang budayawan kelahiran Sumbawa, Taufik menghabiskan beberapa waktu di tempat-tempat yang berbeda dalam perjalanan hidupnya. Yaitu di Jember dan Yogyakarta. Taufik juga menghabiskan setengah usianya dengan berziarah ke pusat-pusat peradaban dunia. Seperti Baghdad, Yerussalem, Tibet, India, dan Jepang,

Dalam kesempatannya memberi materi, Taufik Rahzen memberikan pemaparan nilai akar budaya manusia secara konteks bukan secara tubuh. Bagaimana peristiwa bencana besar dapat mempengaruhi arah kehidupan. Semisalnya dalam bencana letusan Gunung Toba sekitar 77 ribu tahun lalu. Dimana letusan ini menjadi salah satu letusan terdahsyat dalam sejarah kehidupan manusia.

Akibat yang dirasakan alam dan makhluk hidup pun sangat besar. Ketika itu bahkan ada hasil penelitian yang mengatakan bahwa populasi manusia mengalami penyusutan yang sangat dahsyat.

kehilangan

Dalam konteks daerah Sumbawa, letusan gunung Tambora juga menjadi ingatan dominan di tengah masyarakat dunia. Bagaimana hasil dari kejadian bencana besar tersebut menyebabkan dunia tidak memiliki musim panas selama tiga tahun. Kemudian menyebabkan banyak manusia mati kelaparan.

Bahkan sejarah juga menceritakan bahwa letusan Tambora menjadi alasan kekalahannya Napoleon Bonaparte. Sisi lain dar gelapnya dampak letusan Tambora yang dahsyat, manusia mencari cara bagaiman harus tetap beraktivitas. Ketika semua hewan peliharaannya mati kelaparan akibat musim dingin yang berkepanjangan. Akhirnya manusi menemukan alat bantu yang kemudian menjadi asal muasal sepeda dengan cara kerja yang masih sangat sederhana.

Adapun akhirnya tercipta sebuah kawasan Teluk Saleh yang memberikan pemandangan biota laut yang indah sampai dinobatkan sebagai aquarium terbesar di dunia.

Menurutnya, manusia selalu punya insting cerdas untuk memahami kekuatan destruktif untuk melakukan sebuah transformasi, yang membuatnya mempertahankan spesiesnya. Kemampuan memahami lingkungan sekitar, bisa dijadikan ide cerita dalam proses produksi film. Sedangkan film adalah medium yang efektif untuk menyampaikan sebuah pesan.

Kegiatan seminar nasional ini, dilaksanakan pada 18 dan 19 Oktober. Tujuannya untuk menjaring para peminat film berskala nasional untuk membahas tema Festival Film Sumbawa ketiga. Yakni, perempuan, alam dan ketahanan budaya, melalui sudut pandang seorang budayawan dan kurator kontemporer. Pelaksanaan seminar ini berlokasi di Studio Kreatif Sumbawa Cinema Society, Kronik Sumbawa. (bs/mei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.