Tolak Pemakaman Standar Covid, Peti Jenazah Dibakar

oleh -23 Dilihat

Peti jenazah yang tidak digunakan, dibakar di sekitar TPU Desa Pernek

 

Beritasumbawa.com (24/8/2021)

MOYO HULU- Warga di Desa Pernek, menolak salah seorang warganya dimakamkan sesuai protokol kesehatan covid-19, Selasa (24/8). Akhirnya, jenazah salah seorang warga tersebut dikeluarkan paksa dari peti. Kemudian dimakamkan secara biasa. Untuk menghindari penularan, akhirnya peti jenazah yang tidak digunakan tersebut dibakar.

Kapolsek Moyo Hulu, AKP. Satrio, SH., yang dikonfirmasi mengatakan, sekitar pukul 10.00 Wita, pihaknya mendapatkan informasi adanya pemakaman pasien covid-19 di TPU Desa Pernek, tanpa menggunakan protokol kesehatan. Atas infomasi tersebut lanjutnya, pihaknya bersama dengan Kormail dan Satgas Kecamatan Moyo Hulu mendatangi lokasi.

“Tadi kita dapat informasi bahwa di sana ada penolakan pemakaman jenazah dengan protokol covid. Sehingga kami ke sana,” ujar Satrio.

Setibanya di lokasi, ternyata proses pemakaman telah selesai. Pihaknya menemukan, peti jenazah pasien yang tidak digunakan di lokasi. Karena jenazah warga tersebut dimakamkan tidak menggunakan peti.

kehilangan

“Saat kami ke sana, prosesnya sudah selesai. Memang kita tidak ketemu dengan Satgas Kabupaten di lokasi, petugas yang mengantar jenazah juga kami tidak bertemu. Kita kesana sama Satgas Kecamatan, Koramil, ternyata sudah dilaksanakan pemakaman. Kami tanya apa alasannya tidak menggunakan peti, mereka jawab karena liang lahat tidak sesuai dengan peti, lebarnya tidak cocok dengan peti,” jelasnya.

Kerena peti dibiarkan begitu saja di lokasi, dirinya berinisiatif agar peti serta Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan oleh pihak keluaga untuk memakamkan janazah, dimusnahkan. Daripada dibiarkan begitu saja di TPU tersebut.

Terkait hal ini, pihaknya mengimbau keluarga pasien termasuk empat orang yang mengantarkan jenazah ke dalam liang lahat. Agar wajib mensterilkan diri sebelum pulang ke rumah masing-masing. “Sudah saya berikan himbauan kepada keluarga, sebenarnya harus ada koordinasi kalau memang tidak cocok, kalau ada petugas enak kita kasih lebar lagi. Jadi saya sampaikan mereka wajib cuci tangan dan sebagainya setelah pemakaman,” tandasnya.

Disinggung ketika warga yang melakukan pemakaman, apakah diminta untuk isolasi mandiri, menurut Satrio, pihaknya akan berkoordinasi dengan kepala desa setempat. “Nanti saya koordinasikan lagi. Situasi rumah duka juga terpantau sepi,” pungkasnya. (bs/mei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.