Lunyuk, Benteng Pertahanan Terakhir Jepang di Sumbawa

oleh -43 Dilihat

Salah satu pintu masuk utama goa Jepang di Pantai Babar, Desa Mekar Sari, Kecamatan Lunyuk

 

 

LUNYUK- Kecamatan Lunyuk, memiliki banyak potensi wisata. Selain wisata alam, di Lunyuk juga terdapat wisata sejarah. Yakni goa peninggalan tentara Jepang di Dusun Mekar Sari, Desa Perung. Bahkan, menurut cerita warga, Lunyuk merupakan benteng pertahanan terakhir tentara Jepang di Sumbawa.

Lokasi yang lebih dikenal warga dengan nama Goa Jepang ini, terletak di pinggir pantai. Lokasinya di Pantai Babar, Dusun Mekar Sari, Desa Perung. Berjarak sekitar sekitar lima kilometer dari Kantor Camat Lunyuk. Lokasinya juga bisa diakses dengan mudah. Bahkan, kendaraan roda empat bisa langsung berhenti di mulut goa.

Goa tersebut berbentuk seperti labirin. Menurut warga, goa ini memiliki banyak cabang. Sementara ini, baru enam titik cabang yang teridentifikasi. Sebab, belum pernah ada warga setempat yang berani menjelajahi goa itu secara keseluruhan. Sebab, banyak cerita mistis mengenai goa ini. Selain itu, goa ini juga kini sudah menjadi sarang dari berbagai jenis ular berbisa dan reptil lainnya.

Berdasarkan keterangan warga, sejumlah pintu goa itu ditandai dengan berbagai macam benda. Salah satunya adalah pohon kelapa. Selain itu, pintu goa yang ada di dinding tebing juga ditanami pohon beringin. Fungsinya sebagai kamuflase agar tidak mudah ditemukan.

kehilangan

Adapun ukuran pintu goa itu bervariasi. Ada yang diameternya berukuran 50 centimeter. Pintu seukuran ini ditemukan di sekitar tebing disebelah barat Pantai Babar, Dusun Mekar Sari, Desa Perung. Sementara itu, pintu masuk utama goa itu hanya berdiameter sekitar satu meter. Pintu ini terletak sekitar 100 meter dari bibir Pantai Babar.

Salah satu ceruk lokasi pintu masuk goa Jepang

Selain itu, lokasi tebing dan ceruk pintu masuk goa ini sangat kokoh. Sehingga hal ini kemungkinan yang dijadikan alasan tempat ini dijadikan markas tentara Jepang.

Saksi hidup pembangunan goa tentara Jepang di Lunyuk, Makarodah (kanan)

Salah seorang saksi hidup, Makarodah mengatakan bahwa saat goa itu dibangun, dia masih kecil. Ayahnya merupakan mandor dari para pekerja yang membangun goa itu. Goa itu dibangun antara tahun 1942-1943, saat pertama kali Jepang tiba di Sumbawa.

Menurutnya, ada dua pintu yang paling penting di sana. Yakni pantai goa Lenang Babar di Pantai Babar dan di Seleme yang terletak sekitar 2,5 kilometer sebelah timur Pantai Babar.

Dalam pembangunannya, warga setempat dipaksa untuk bekerja. Apabila warga menolak, maka akan dieksekusi. Warga yang malas bekerja, juga akan dieksekusi. Setelah goa itu selesai dibangun, semua warga dikembalikan ke rumahnya masing-masing.

Saat goa tersebut mulai ditempati tentara Jepang, warga setempat tidak boleh mendekati lokasi itu. Apabila ada warga yang mendekat, maka akan langsung ditembak. Sebab, lokasi itu merupakan benteng pertahanan dan tempat penampungan barang-barang tentara Jepang. Baik itu emas hingga senjata. “Hingga saat ini, barang-barang itu masih tersimpan di sana,” ujar Makarodah.

Makarodah mengatakan, goa di Pantai Babar berfungsi sebagai benteng dan tempat penyimpanan. Sementara goa di Saleme, digunakan sebagai kantor. Penjagaan dilakukan oleh tentara Jepang mulai Pantai Babar hingga Pantai Maluk. Karena, ada sesuatu yang disembunyikan di sepanjang pantai itu.

Situs Batu Kopiah yang dulu digunakan sebagai lokasi pengawasan

Dalam hal ini, situs batu kopiah yang terletak sekitar 50 meter dari Pantai Babar, merupakan tempat yang difungsikan sebagai tempat pemantauan. Lokasi itu digunakan untuk memantau kondisi lalu-lintas perairan di sekitar Lunyuk. Tidak boleh ada perahu atau kapal lain yang melintas. Termasuk perahu nelayan juga tidak diperbolehkan. Jika ada perahu nelayan yang melintas, maka akan diberikan tembakan peringatan.

Jumlah tentara yang ada di lokasi itu hingga ribuan. Sebab, para tentara itu datang silih berganti.

Saat kemerdekaan pada 1945, tentara Jepang yang mendiami goa itu langsung meninggalkan lokasi. Para tentara Jepang ini digiring untuk meninggalkan Lunyuk oleh warga setempat hingga Kota Sumbawa. Para tentara ini pergi dengan meninggalkan semua barang milik mereka di Goa tersebut.

Hingga saat ini, sebagian barang berharga di lokasi tersebut masih ada. Namun, warga tidak ada yang berani. Karena benda-benda itu tidak bisa sembarangan diambil. Sebab, tentara Jepang memasang perangkap di pintu- pintu dalam Goa.

Selain itu, Goa tersebut juga ditunggui oleh mahluk halus.

Makarodah mengungkapkan, pernah ada sejumlah warga yang mencoba membuka paksa dan memindahkan peti yang ada di dalam goa tersebut. Warga tersebut mengaku didatangi oleh seseorang dalam mimpi mereka. Orang tersebut meminta agar peti itu tidak dipindahkan kemana-mana.

Ada warga yang mengindahkan mimpi itu dan mengembalikan lagi peti itu ke tempat semula. Ada juga warga yang tidak mengindahkan mimpinya itu. Selang beberapa hari, warga tersebut akhirnya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Dari situlah warga menjadi segan dan tidak berani mengeksplorasi goa itu secara keseluruhan.

Sementara itu, Camat Lunyuk, Iwan Sofyan mengatakan, dengan keberadaan goa Jepang ini, diharapkan kepada stake holder terkait untuk bisa memelihara dan membinanya. Juga diharapkan bisa dijadikan sebagai situs atau cagar budaya untuk dipelihara. Apabila akan menjadi destinasi wisata, diharapkan Dinas Pariwisata dan Dinas Dikbud bisa melakukan pembenahan. Agar layak dikunjungi.

Salah satu pintu masuk tersembunyi goa tentara Jepang

Selaku pemerintah kecamatan, pihaknya akan melakukan advokasi masyarakat. Guna membentuk sikap yang sangat wellcome dengan keberadaan situs ini. Intervensi dana desa juga dimungkinkan dalam hal mendukung pelatihan Pokdarwis untuk membenahi lokasi itu. Pihaknya secara swadaya juga mempromosikan lokasi tersebut.

Dalam hal ini, pihaknya sudah mewawancarai sekitar delapan orang yang membantu membuat goa tersebut. Hampir 100 persen pernyataan warga tersebut juga singkron dan konsisten. Namun, yang menjadi kelemahan, belum ada literasi tertulis terkait keberadaan goa Jepang itu sendiri. (bs/aj/mei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.