Hingga Juni, 82 Serangan HPR di Lunyuk

oleh -21 Dilihat

Camat Lunyuk, Iwan Sofian

 

 

Beritasumbawa.com (7/6/2021)

SUMBAWA- Serangan hewan penyebar rabies (HPR) di Kecamatan Lunyuk, tidak bisa dianggap main-main. Buktinya, hingga Juni ini, tercatat sebanyak 82 kasus terjadi di kecamatan tersebut.

Camat Lunyuk, Iwan Sofian membenarkan adanya hal tersebut. Saat ini, pihaknya telah membentuk satuan tugas (satgas) guna menangani persoalan ini. Setelah terbentuk, satgas tersebut langsung bertugas. Bahkan sudah berkoordonasi dengan dokter hewan yang ada di UPT Peternakan Kecamatan Lunyuk. “Sudah juga dibentuk tim reaksi cepat di lima desa di Lunyuk. Tim ini bukan hanya menangani rabies saja, tapi juga covid-19,” ujar Iwan.

Maraknya kasus serangan HPR ini karena banyaknya warga yang memelihara anjing. Bukan hanya dipelihara di rumah, namun juga di ladang milik warga. Ketika musim panen tiba, maka anjingnya dilepas ke pemukiman warga. Bukan hanya warga biasa yang diserang. Pemiliknya pun diserang oleh HPR tersebut. Namun, para korban yang diserang cepat tertangani.

kehilangan

Iwan mengungkapkan, ada juga warga yang diserang oleh anjing, namun tidak dilaporkan. Setelah warga itu diserang, anjing tersebut langsung dieliminasi. Kemudian dikuburkan oleh warga tanpa pemberitahuan. Setelah dua hari, barulah warga melaporkan kejadian ini. Akibatnya, pihaknya tidak bisa mengambil sampel otak dari anjing tersebut. Untuk mengetahui apakah terjangkit rabies atau tidak.

Sejauh ini, tidak ada korban meninggal akibat serangan HPR. Untuk mencegah korban berjatuhan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi ke desa-desa. Dimana masyarakat dibekali tata cara penanganan jika diserang HPR. Dimana warga yang diserang wajib mencuci bekas luka dengan air mengalir selama 15 menit. Kemudian warga tersebut harus datang ke puskesmas untuk diberikan vaksin anti rabies (VAR). “Biasanya langsung dua kali warga yang diserang diberikan VAR. Untuk jaga-jaga,” imbuhnya.

Diakui, ada sejumlah warga korban serangan yang terlambat diberikan VAR. Hal itu dikarenakan stok vaksin di puskesmas habis. Bahkan stok vaksin di Mataram juga habis saat itu.

Namun, saat ini serangan HPR sudah mereda. Terakhir, serangan HPR yang dilaporkan terjadi pada 14 Mei lalu. Meski demikian, pihaknya tetap waspada. Sebab, program eliminasi HPR ini berlangsung hingga setahun. Program ini dibiayai oleh Dinas Peternakan Kabupaten Sumbawa.

Selain itu, bagi anjing dan kucing yang dipelihara warga, telah dilakukan vaksinasi. Untuk mengantisipasi serangan HPR, pihaknya gencar melakukan sosialisasi. Apabila ada anjing peliharaan milik warga yang tidak diikat, maka akan langsung dieliminasi dengan cara ditembak. (bs/mei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.